Paradigma Satpam PTSM: Salam, Sapa, Senyum dan Sopan

Bayangan kebanyakan orang ketika kita berbicara mengenai petugas Satpam (Satuan Tenaga Pengamanan) adalah badan kekar, berkumis tebal, galak dan ada juga yang memandang arogan. Bayangan ini dipengaruhi oleh paradigma (cara parbndang) masa lalu tentang centeng, penjaga rumah dan kantor kumpeni (VOC), jawara, jagoan dan sejenis penjual jasa kekuatan otot lainnya.

PTSM tidak akan menerapkan paradigma seperti itu di dalam memilih dan mengangkat calon karyawannya untuk posisi Satpam. Paradigma yang akan diterapkan adalah tenaga satpam harus berpandangan positif terhadap setiap orang yang datang ke perusahaan dengan menerapkan moto: “Salam, Sapa, Senyum dan Sopan”. Oleh karena itu, dalam memilih dan mempekerjakan tenaga Satpam, PTSM tidak menerapkan cara yang asal-asal. Misalnya asal berbadan tegap, berotot kekar dan berkumis tebal. Mereka yang dipilih adalah orang-orang yang berusia maksimum 30 tahun, berpendidikan SLTA bahkan Sarjana Strata 1, cakap dalam berbicara, mempunyai mutu pribadi yang positif (ramah, sopan dan murah senyum), mempunyai pengetahuan dasar tentang keamanan dan pengamanan, berbadan sehat yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan kesehatan oleh laboratirium dan tenaga medis yang dipilih oleh perusahaan.

Pengangkatan mereka juga memalui suatu proses seleksi yang ketat dan bersaing. Para calon harus melalui wawancara yang intensif, ujian fisik yang tidak ringan, ujian kesehatan yang ketat oleh tenaga medisprofessional yang ditunjuk oleh PTSM

Setelah mereka dipekerjakan, mereka juga diberikan pelatihan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan secara terus menerus, baik yang dilakukan secara intern maupun dengan cara mengirim mereka kepada lembaga pelatihan tenaga pengamanan yang resmi. Misalnya, pada bulan September ini, sejumlah tenaga Satpam PTSM akan mengikuti pelatihan tentang keterampilan menjaga keamanan dan melakukan pengamanan yang diselenggarakan oleh Kepolisian Resor Mandailing Natal di Panyabungan, dengan para instruktur professional dan berpengalaman.

Secara intern, mereka juga dibekali dengan keterampilan berkomunikasi yang sopan dan efektif, cara penerimaan tamu yang ramah, dan cara-cara menyelamatkan aset perusahaan seperti pelatihan menggunakan alat pemadam kebakaran, dan sebagainya.

Pada dasarnya, dalam mencari calon tenaga pengamanan, PTSM memprioritaskan warga masyarakat dimana tenaga satpam itu akan ditempatkan. Misalnya, pada bulan Agustus 2011 yang lalu perusahaan membutuhkan tenaga pengamanan untuk dua mess (asrama) karyawan dan satu kantornya di Panyabungan. Maka, pengumuman lowongan pekerjaan inipun dilakukan di Panyabungan, dan berpuluh-puluh pelamar datang ke kantor PTSM. Bukan hanya lulusan SLTA yang datang melamar, tapi juga sarjana S1. Mereka dipilih secara ketat dan penuh kompetisi. Bagi yang lulus, ini suatu kebanggan, karena mereka tidak dipekerjakan atas dasar nepotisme (kekerabatan dan perkoncoan) dan bukan pula karena adanya kolusi antara oknum perusahaan dengan kerabat para calon.

Meraka diberi paket remunerasi di atas standar UMP (Upah Minimum Provinsi), diikutsertakan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), disediakan THR, jaminan kesehatan di luar Jamsostek, dan makan serta minuman selama bertugas. Dengan imbalan yang demikian bagus, diharapkan mereka akan semangat bekerja.

Comments are closed.