Pemboran Eksplorasi PT Sorikmas Mining Aman

Dalam industri pertambangan, pemboran adalah kegiatan paling penting pada tahap eksplorasi. Tujuan utama dari pemboran eksplorasi adalah mengambil dan merekam data geologi yang ditembus alat bor. Data ini berupa rekaman catatan hasil pengamatan pada pemboran Eksplorasi PT Sorikmas Mining Aman dari contoh batuan (core) yang diambil, khususnya sifat atau ciri batuan (litologi) serta gejala geologi lainnya.

Core inilah yang dikirim ke laboratorium untuk diuji kandungan emasnya. Kegiatan pemboran ini memungkinkan kami untuk mengetahui apa yang ada di bawah permukaan tanah dan apakah ada kandungan emas di bawah tanah lokasi proyek.

Namun, tidak semua core mengandung emas. Kami biasanya berharap untuk dapat menemukan bagian sepanjang 5 sampai 20 meter dari pemboran sedalam 50 meter atau maksimum 300 meter yang mengandung kadar emas yang baik. Biasanya, bagian-bagian yang mengandung kadar emas yang baik tersebut terletak di kedalaman antara 50 sampai 180 meter di bawah permukaan tanah.
Lokasi area Sihayo dan Sambung PT Sorikmas Mining terletak kira-kira 1.200 meter di atas permukaan laut dan kurang lebih 900 meter di atas Sungai Batang Gadis.

Pada saat melakukan pemboran di area tersebut, kedalaman lubang yang dicapai sekitar 50 sampai maksimum 300 meter. Sehingga, meskipun telah mencapai kedalaman maksimum, masih ada jarak 600 meter lagi sebelum lubang dapat mencapai Sungai Batang Gadis dan masih ada sekitar 900 meter lagi sebelum lubang mencapai permukaan laut. Kegiatan pemboran ini juga aman bagi tanah dan lingkungan karena lubang bornya kecil dan bahan yang digunakan untuk memperlancar pemboran juga tidak ada yang beracun (baca artikel tentang lumpur pemboran pada edisi ke-3 Barita Sorikmas). Besarnya diameter lubang bor rata-rata hanya sebesar 3,5 inci ( Sejak memulai kegiatan eksplorasi di Sihayo-Sambung sampai pertengahan Nopember 2011, PTSM telah berhasil membor sekitar di 516 titik di Sihayo dan 92 titik di Sambung. Semua core yang diambil dan hasil-hasil uji laboratorium telah membantu PTSM untuk mengerti ukuran dan bentuk area di bawah tanah yang mengandung emas.

Emas yang terdapat di Sihayo dan Sambung adalah jenis emas yang sangat halus, kami bahkan tidak bisa melihat emas secara kasat mata pada core-core yang telah diambil. Itulah sebabnya, di masa yang akan datang kami perlu membangun sebuah pabrik pengolahan emas yang modern agar dapat memisahkan dan memproduksi emas-emas tersebut. Metode yang biasa digunakan oleh banyak penambang liar tidak dapat digunakan untuk mengambil emas di Sihayo-Sambung, walaupun di lokasi lainnya para penambang liar ini berhasil menggunakan metode mereka untuk mengambil emas. PTSM akan meneruskan kegiatan pemboran di area Sihayo-Sambung dengan harapan untuk menemukan lebih banyak cadangan emas dan memastikan terlaksananya operasi pertambangan yang telah direncanakan. Metode yang biasa digunakan oleh banyak penambang liar tidak dapat digunakan untuk mengambil emas di Sihayo-Sambung, walaupun di lokasi lainnya para penambang liar ini berhasil menggunakan metode mereka untuk mengambil emas. Apakah kegiatan pemboran PTSM dapat menyebabkan gempa bumi atau longsor? Sama sekali tidak ada hubungan antara kegiatan pemboran dengan gempa bumi. Gempa bumi disebabkan oleh kegiatan pergerakan lempeng kerak bumi dan kegiatan perut bumi yang terjadi ribuan meter di bawah permukaan bumi. Kegiatan pemboran yang terjadi saat ini di lokasi proyek maksimal di kedalaman 300 meter dari permukaan bukit, sehingga PTSM benar-benar yakin bahwa pemboran kami tidak akan menyebabkan bencana alam tersebut. (Baca artikel pada hal 1 dan 2 dari edisi ini tentang “Gempa”) Aktivitas pemboran juga tidak menyebabkan longsor. Longsor atau gerakan tanah terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis, seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi (gaya tarik bumi) yang mempengaruhi suatu lereng yang curam. Namun, ada pula faktor-faktor lainnya yang turut menyumbang pada terjadinya longsor, di antaranya seperti:

1) Erosi yang disebabkan aliran air sungai atau gelombang laut yang menggerus kaki lereng-lereng;

2) Hujan lebat yang mengakibatkan lereng dari bebatuan dan tanah menjadi lemah;

3)Gempa bumi yang menyebabkan getaran, tekanan pada partikel-partikel mineral dan bidang lemah pada masa batuan dan tanah yang mengakibatkan longsornya lereng-lereng.

Jadi sudah sangat jelas, bahwa kegiatan pemboran tidak mengakibatkan gempa bumi ataupun longsor. Sebab, tidak ada satu pun faktor penyebab bencana alam gempa bumi ataupun longsor yang disebabkan oleh kegiatan pemboran eksplorasi yang dilakukan oleh PTSM. Bisakah pemboran PTSM menyebabkan bencana seperti lumpur panas Lapindo di Jawa Timur? Pemboran untuk emas sangat berbeda dengan pemboran untuk minyak dan gas. Pemboran untuk minyak dan gas dilakukan pada batuan berpori (porous) dan lunak (soft rock), sedangkan pada pertambangan mineral logam pemboran dilakukan pada batuan keras (hard rock). Minyak dan gas ditemukan jauh di dalam perut bumi dan hampir pasti jauh di bawah permukaan laut. Pada jaman teknologi tinggi seperti sekarang umumnya pemboran minyak dan gas mencapai kedalaman lebih dari 1.000 meter di bawah permukaan laut, bahkan terkadang bisa mencapai kedalaman hingga 7.000 meter. Di area Sihayo-Sambung, pemboran PTSM cukup dangkal apabila dibandingkan dengan pemboran untuk minyak dan gas.

Oleh karena itu, kami tidak akan pernah membor sampai ke struktur perut bumi yang dapat menyebabkan bencana seperti lumpur panas Lapindo. Terjadinya muntahan lumpur panas Lapindo karena di bawah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur terdapat gunung lumpur dan pada saat terjadi gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya terjadi keretakan di perut bumi yang menyebabkan gunung lumpur di bawah Kabupaten Sidoarjo menyemburkan lumpur ke permukaan bumi (meski masih ada kontroversi mengenai penyebab terjadinya bencana lumpur Lapindo) ini.

Apakah pemboran dapat merusak lingkungan? Setiap kali akan melakukan pemboran, kami membuat tanah tapak untuk mesin bor dan anjungannya (rig) . Inilah yang disebut dengan drill pad. Luasnya kecil saja, yaitu sekitar 8 m x 8 m sampai dengan 8 m x 12 m. Area ini biasanya dibersihkan dan diratakan untuk dijadikan pijakan anjungan bor selama 1-2 minggu untuk membuat satu atau dua lubang bor.

Setelah pemboran selesai, kami juga merehabilitasi area drill pad dengan cara menanam tanaman penutup tanah yang cepat tumbuh (fast growing cover crops), dan sebulan sampai 2 bulan berikutnya baru ditanami dengan bibit pohon lokal. Alat pemboran kami digerakkan oleh mesin berbahan bakar solar. Pada kasus yang sangat jarang terjadi, operator mungkin menumpahkan sedikit bahan bakar solar atau pelumas (oli) di area drill pad. Untuk menghindarinya, kami biasanya menempatkan nampan khusus di bawah mesin untuk menampung tumpahan solar ataupun pelumas (oli).

Comments are closed.