Penerapan Pembangunan Berkelanjutan dalam Kegiatan Eksplorasi

Eksplorasi bahan mineral itu merupakan bidang ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tujuan dari eksplorasi mineral adalah untuk mencari mineral dalam jumlah yang dapat ditambang secara ekonomis, seperti emas, tembaga, timah hitam (galena), seng, perak, besi, nikel, bauksit dan banyak lagi. Hampir setiap manusia yang ada di planet bumi ini menggunakan beberapa bahan mineral tersebut dan oleh karenanya setiap orang di planet ini terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam ekplorasi mineral.

Eksplorasi mineral secara umum dimulai dengan mengumpulkan beberapa conto batuan kecil, tanah dan endapan sungai dari permukaan tanah dengan menggunakan alat pencungkil, mattock (palu khusus) dan kantong conto. Jika mineralisasi terdeteksi pada conto-conto yang diambil dari permukaan tanah tersebut, maka lobang uji (test pits) atau galian (trenches) dapat digali untuk mendapat sumber mineral di dalam batu dasar.

Untuk menguji sejauh mana kedalaman sebarannya serta ukuran mineralisasinya, maka dilakukan pemboran dengan menggunakan anjungan dan mesin bor. Karena setiap orang di muka planet bumi ini terlibat atau berhubungan dengan mineral, maka ekplorasi mineral harus dilakukan sesuai konsep pembangunan berkelanjutan dengan menerapkan praktek-praktek yang tidak menghasilkan atau paling tidak membatasi dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Pengumpulan conto permukaan, pembuatan lobang uji dan galian selokan biasanya dikerjakan dengan tangan, kemudian diurug kembali serta ditanami pohon-pohon lokal agar hijau kembali.

Untuk dapat melakukan pemboran eksplorasi, diperlukan lahan dengan ukuran 8 m X 8 m sebagai landasan anjungan dan mesin bor dan untuk membuat dua lubang berukuran 1,5 m X 1,5 m X 1,5 m yang akan digunakan untuk menampung lumpur pemboran dan pelicin pemboran serta batuan sisa pemboran (cuttings). Cairan pemboran tersebut ramah lingkungan dan dapat tercerna oleh alam secara mudah dan cuttings itu merupakan potongan-potongan batu yang kecil. Hal lain yang sering dikhawatirkan orang dari kegiatan pemboran ini adalah tumpahan bahan bakar dan minyak pelumas. Untuk menghindarinya, maka di bawah tanki bahan bakar dan di bawah mesin bor disediakan tempat penampungan tumpahan BBM dan pelumas. Untuk jaga-jaga bila terjadi tumpahan BBM dan pelumas dalam julah yang banyak, kami juga menggunakan “Spill Kit (alat penampung tumpahan)”.

Setelah selesainya kegiatan pemboran, lahan bekas landasan anjungan dan mesin bor ini direhabilitasi dengan penanaman pohon lokal serta lubang untuk penampung lumpur pemboran juga diurug kembali. Sehingga gangguannya terhadap lahan sedikit sekali, bahkan hampir tidak terlihat. Cobalah tengok di sekitar lahan anda. Ada kemungkinan lahan itu pernah dikunjungi oleh geologis yang mengekplorasi mineral, tapi saya akan terkejut jika anda dapat melihat bekas jejaknya!

Comments are closed.