Sonangna maligi bulung-bulung naratai dot segar dope!

Pagi itu, wajah ibu-ibu dan bapak-bapak yang tergabung dalam Kelompok Tani di Desa Sayur Matua cerah-ceria, secerah warna hijau tanaman sayur sawi yang siap dipanen. Inilah hari yang biasa ditunggu-tunggu para anggota kelompok tani.

Bagi anggota Kelompok Tani binaan PT Sorikmas Mining di Desa Sayur Matua, Kecamatan Naga Juang, Kab. Mandailing Natal, meski hampir setiap sebulan sekali mereka memanen sayur, namun setiap kali itu pula mereka selalu bersemangat. Kerja keras mereka menanam dan merawat tanaman sayur organik ini memberikan hasil. Pokok sawi yang ditanam sekitar sebulan silam, kini menjadi sayuran hijau yang siap dipetik.

Menurut Ketua Kelompok Tani Desa Sayur Matua, Jamaluddin Pasaribu, sayuran sawi

 

yang siap panen itu nantinya akan dijual ke warga sekitar dan kedai-kedai di Kecamatan Naga Juang. Bahkan, sebelum dipanenpun, sayuran sawi itu sudah dipesan orang, sehingga saat tiba dipanen sudah langsung habis terjual. Harganya murah-meriah. Hanya Rp 800,- per ikat. “Kedai-kedai di sini sudah memesan duluan. Jadi langsung habis,” ungkap Jamal, begitu ketua kelompok tani ini biasa disapa.

Lebih lanjut Jamal menjelaskan bahwa uang hasil penjualan sayur-sayuran yang dipanen disimpan untuk dikelola dikemudian hari atau dibagi-bagikan kepada anggota Kelompok Tani.

Penjualan hasil produksi tanaman sayur-mayur ini bukanlah pendapatan utama para petani yang tergabung dalam kelompok tani ini, para petani ini juga mendapatkan penghasilan dari PTSM sebagai imbalan atas jasa mereka dalam mengikuti program pembinaan pertanian dan/atau peternakan. Para petani ini mendapatkan penghasilan sebesar Rp 50.000,- (limapuluh ribu rupiah) per hari ditambah lagi dengan uang makan Rp 15.000,- per hari. Jadi total yang bisa didapatkan para petani  ini sebesar Rp 65.000,- per hari yang dibayarkan setiap dua pekan sekali.

Selain mendapatkan penghasilan berupa uang, para petani yang dibina oleh PTSM juga mendapatkan keuntungan lainnya, seperti mendapatkan bibit tanaman gratis dan pengetahuan tambahan mengenai pembibitan tanaman, peternakan, pembuatan kompos, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pertanian, peternakan dan perikanan.  Tujuannya agar perekonomian masyarakat bisa lebih maju dalam usaha pertanian (dalam arti luas) yang berkesinambungan.

Kelompok tani atau koperasi semacam ini tidak hanya dibentuk di Desa Sayur Matua, enam desa lainnya di Kecamatan Naga Juang, yaitu Desa Humbang Satu, Desa Tarutung Panjang, Desa Tambiski Lama, Desa Tambiski Nauli, Desa Banua Simanosor, Desa Banua Rakyat dan satu desa di Kecamatan Panyabungan Utara, yaitu Desa Simanondong juga dibentuk kelompok tani/koperasi. Kegiatan yang dilakukan sama, yaitu seputar pertanian, dan/atau peternakan serta perikanan. Dan seluruh warga masyarakat desa bebas untuk bergabung.

Pada saat ini di tujuh desa dalam kecamatan Naga Juang dan 1 desa tetangga sudah ada 24 kelompok tani yang sedang mendaftarkan diri untuk memperoleh badan hukum koperasi.  Yang dilakukan para petani peserta program ini—di bawah bimbingan tenaga ahli asing dan tim karyawan warga Madina—ada 34 kegiatan.

Beberapa macam kegiatan itu antara lain pembibitan tanaman buah-buahan dan tanaman industri, peternakan ayam, itik dan kambing, peternakan babi (di desa yang mayoritas penduduknya non-muslim), perikanan, dan pembuatan pupuk organis(kompos) yang dibuat dari limbah pertanian

yang ada di sekitar desa mereka, pembuatan makanan ternak dari keong mas yang pada masa lalu merupakan hama tanaman padi sawah, instalasi gas bio, tempat permentasi dan pengeringan cocoa serta gudangnya, dan lain sebagainya. Untuk menangani kegiatan-kegiatan tersebut, para petani peserta program ini dilatih dalam cara:

1. Penyiapan lahan pertanian;

2. Pengumpulan limbah pertanian;

3. Pembuatan pupuk organis (kompos);

4. Pembuatan kolam ikan;

5. Pembuatan kandang ternak yang memenuhi syarat: untuk kambing, babi, bebek, ayam, dll

6. Pemeliharaan persemaian tanaman;

7. Pemangkasan daun dan ranting pohon (cocoa misalnya) yang tidak perlu;

8. Pengeringan hasil pertanian, seperti jagung, cocoa dsb;

9. Beternak ayam, bebek, kambing, babi;

10. Okulasi tanaman buah-buahan dan karet;

11. Pencangkokan;

12. Pembuatan pakan ternak dan ikan dengan menggunakan bahan lokal yang tersedia;

13. Penyulingan akar wangi, daun nilam dan kayu manis, dll.

 

Pada tahun 2011 Sorikmas mengeluarkan dana untuk program ini sejumlah Rp 1.3 milyar, dan sampai dengan bulan April 2012  saja Sorikmas sudah mengeluarkan Rp 2.289.000.000.  Jumlah ini tidak termasuk biaya untuk gaji dan operasi tim pelaksana.  Jumlah ini akan semakin meningkat, khususnya kalau Sorikmas sudah memasuki tahap operasi & produksi.

 

             

Comments are closed.