PROGRAM-PENDUKUNG PERTANIAN LAINNYA

Latihan pembudidayaan COCOA  akan diatur berdasarkan kelompok tani berbasis desa.

Pemangkasan pohon, pemupukan dengan kompos dan mulsa yang dibuat secara lokal, pengendalian penyakit dan prosedur-prosedur pasca panen akan menjadi komponen-komponen dari latihan.  Khususnya produksi biji cocoa yang difermentasi, bermutu, kering dan terpilih untuk pemasaran langsung yang khusus, kelihatannya cukup menjanjikan. Program yang sama untuk produksi dan perbaikan pohon buah-buahan juga akan ditawarkan kepada para petani.

Para pelaksana (operator) petak pembibitan ini dan para petani yang punya minat akan dilatih secara intensif dalam teknik  inokulasi dari pengembangbiakan pohon.

Biji cocoa yang akan disemaikan diperoleh dari penyedia bibit yang bersertifikat dan akan dicakup ke dalam program penanaman.

Untuk mengidentifikasi dan mendapatkan lokasi-lokasi yang terancam longsor (kritis) dan target prioritas dari penanaman kembali, kami akan melibatkan masyarakat petani. Sesuai dengan selera dari para pemangku kepentingan (para petani dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan) syarat-syarat dan ukuran-ukuran untuk meningkatkan stabilitas tanah, areal yang sudah diidentifikasi akan ditanami kembali dan dijaga oleh masyarakat petani.

Disamping itu, penanaman pohon atau tanaman seperti Rumput Akar Wangi, Nilam, dan tanaman penutup lahan akan digunakan sebagi tanaman under crops, penyetabil tanah dan penahan erosi, jika dibutuhkan dan jika memungkinkan.

  • Memproduksi kompos yang diperkaya yang berasal dari bahan-bahan sampah organik, seperti daun-daun dan batang serta tanaman semak hasil pemangkasan, kulit polong cocoa, kulit dan sekam cocoa,  sekam padi dan jerami.  Kompos ini akan digunakan sebagai pupuk organic dalam kegiatan pertanian dan mengurangi biaya pupuk komersial.
  • Peningkatan produksi minyak wangi dengan memperkenalkan peralatan penyulingan yang bermutu, manajemen koperasi, cara penggunaan peralatan penyulingan dan pemasaran langsung dari nilam (patchouli) , vetiver dan minyak kayu manis.
  • Memperkenalkan produksi minyak vetiver dalam kaitannya dengan bibit rumput vetiver.  Pembibitan rumput Vetiver akan dijual ke PT Sorikmas Mining untuk penghijauan kembali dan kegiatan pelandaian sanitasi untuk menghindari longsor, erosi dan aliran air permukaan yang berlumpur (kerus).
  • Memperkenalkan produksi ikan untuk konsumsi, pengendalian hama (seperti larva nyamuk) dan pengendalian mutu air gunung dari polusi bahan  kimia.
  • Produksi sayuran  harus didukung oleh upaya memperkenalkan bibit-bibit yang bermutu, pupuk organik, pestisida organik, juga pemasaran langsung ke pasar-pasar lokal dan layanan logistik kepada  PTSM dan pelanggan besar lainnya seperti kantin-kantin di instansi pemerintah, sekolah dan rumah sakit.  Komponen proyek ini ditargetkan khususnya untuk menyediakan pendapatan tambahan bagi wanita warga masyarakat dan pada saat yang sama akan membantu untuk meningkatkan gizi dari para keluarga pedesaan.
  • Dukungan peternakan hewan seperti memperkenalkan bibit kambing domba dan  babi  (untuk desa yang mayoritas bukan muslim) yang bermutu untuk meningkatkan mutu sediaan hewan betina lokal akan dipertimbangkan untuk masa depan program ini.  Proyek-proyek produksi hewan di masa yang akan datang adalah peternakan bebek petelur, ayam petelur serta daging.  Ini semua akan digabungkan dengan produksi protein lokal makanan ternak dari keong mas yang dikumpulkan dari sawah.  Pengumpulan keong mas ini pada saat yang sama juga akan mengurangi kerusakan produksi beras dengan cara infestasi dengan keong.

 

Para Ibu Anggota Kelompok Tani di Kecamatan Naga Juang
“Ikut program pembibitan bisa pasang listrik dan bayar sekolah anak”
Kegiatan kelompok/koperasi tani binaan PT Sorikmas Mining di Kecamatan Naga Juang dan sekitarnya, sedikit banyak membawa berkah dan dampak positif kepada anggotanya. Ibu Gusti Pardede, Ibu Atik Siregar, dan Ibu Yayuk, misalnya. Di usia yang sudah 40-an tahun, mereka yang masih giat bekerja di lahan pembibitan mengaku kehidupannya terbantu sejak menjadi anggota kelompok pembibitan.

“Saya senang bisa ikut bergabung dalam kegiatan pembibitan ini. Sehari-hari jadi ada kegiatan dan juga menghasilkan uang. Dalam sebulan pendapatan saya bisa lebih dari Rp 1 juta. Uang itu untuk biaya anak sekolah dan kehidupan sehari-hari.”

 

 

 

“Alhamdulillah, dengan pendapatan dari kegiatan pembibitan, sekarang rumah saya sudah terang karena sudah bisa pasang listrik dan bisa membayar sekolah anak.”

 

 

 

 

“Saya belum lama ikut kegiatan pembibitan ini, penghasilan yang saya dapatkan menambah pendapatan keluarga untuk membantu biaya hidup sehari-hari. Alhamdulillah.”

Sonangna maligi bulung-bulung naratai dot segar dope!

Pagi itu, wajah ibu-ibu dan bapak-bapak yang tergabung dalam Kelompok Tani di Desa Sayur Matua cerah-ceria, secerah warna hijau tanaman sayur sawi yang siap dipanen. Inilah hari yang biasa ditunggu-tunggu para anggota kelompok tani.

Bagi anggota Kelompok Tani binaan PT Sorikmas Mining di Desa Sayur Matua, Kecamatan Naga Juang, Kab. Mandailing Natal, meski hampir setiap sebulan sekali mereka memanen sayur, namun setiap kali itu pula mereka selalu bersemangat. Kerja keras mereka menanam dan merawat tanaman sayur organik ini memberikan hasil. Pokok sawi yang ditanam sekitar sebulan silam, kini menjadi sayuran hijau yang siap dipetik.

Menurut Ketua Kelompok Tani Desa Sayur Matua, Jamaluddin Pasaribu, sayuran sawi

 

yang siap panen itu nantinya akan dijual ke warga sekitar dan kedai-kedai di Kecamatan Naga Juang. Bahkan, sebelum dipanenpun, sayuran sawi itu sudah dipesan orang, sehingga saat tiba dipanen sudah langsung habis terjual. Harganya murah-meriah. Hanya Rp 800,- per ikat. “Kedai-kedai di sini sudah memesan duluan. Jadi langsung habis,” ungkap Jamal, begitu ketua kelompok tani ini biasa disapa.

Lebih lanjut Jamal menjelaskan bahwa uang hasil penjualan sayur-sayuran yang dipanen disimpan untuk dikelola dikemudian hari atau dibagi-bagikan kepada anggota Kelompok Tani.

Penjualan hasil produksi tanaman sayur-mayur ini bukanlah pendapatan utama para petani yang tergabung dalam kelompok tani ini, para petani ini juga mendapatkan penghasilan dari PTSM sebagai imbalan atas jasa mereka dalam mengikuti program pembinaan pertanian dan/atau peternakan. Para petani ini mendapatkan penghasilan sebesar Rp 50.000,- (limapuluh ribu rupiah) per hari ditambah lagi dengan uang makan Rp 15.000,- per hari. Jadi total yang bisa didapatkan para petani  ini sebesar Rp 65.000,- per hari yang dibayarkan setiap dua pekan sekali.

Selain mendapatkan penghasilan berupa uang, para petani yang dibina oleh PTSM juga mendapatkan keuntungan lainnya, seperti mendapatkan bibit tanaman gratis dan pengetahuan tambahan mengenai pembibitan tanaman, peternakan, pembuatan kompos, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pertanian, peternakan dan perikanan.  Tujuannya agar perekonomian masyarakat bisa lebih maju dalam usaha pertanian (dalam arti luas) yang berkesinambungan.

Kelompok tani atau koperasi semacam ini tidak hanya dibentuk di Desa Sayur Matua, enam desa lainnya di Kecamatan Naga Juang, yaitu Desa Humbang Satu, Desa Tarutung Panjang, Desa Tambiski Lama, Desa Tambiski Nauli, Desa Banua Simanosor, Desa Banua Rakyat dan satu desa di Kecamatan Panyabungan Utara, yaitu Desa Simanondong juga dibentuk kelompok tani/koperasi. Kegiatan yang dilakukan sama, yaitu seputar pertanian, dan/atau peternakan serta perikanan. Dan seluruh warga masyarakat desa bebas untuk bergabung.

Pada saat ini di tujuh desa dalam kecamatan Naga Juang dan 1 desa tetangga sudah ada 24 kelompok tani yang sedang mendaftarkan diri untuk memperoleh badan hukum koperasi.  Yang dilakukan para petani peserta program ini—di bawah bimbingan tenaga ahli asing dan tim karyawan warga Madina—ada 34 kegiatan.

Beberapa macam kegiatan itu antara lain pembibitan tanaman buah-buahan dan tanaman industri, peternakan ayam, itik dan kambing, peternakan babi (di desa yang mayoritas penduduknya non-muslim), perikanan, dan pembuatan pupuk organis(kompos) yang dibuat dari limbah pertanian

yang ada di sekitar desa mereka, pembuatan makanan ternak dari keong mas yang pada masa lalu merupakan hama tanaman padi sawah, instalasi gas bio, tempat permentasi dan pengeringan cocoa serta gudangnya, dan lain sebagainya. Untuk menangani kegiatan-kegiatan tersebut, para petani peserta program ini dilatih dalam cara:

1. Penyiapan lahan pertanian;

2. Pengumpulan limbah pertanian;

3. Pembuatan pupuk organis (kompos);

4. Pembuatan kolam ikan;

5. Pembuatan kandang ternak yang memenuhi syarat: untuk kambing, babi, bebek, ayam, dll

6. Pemeliharaan persemaian tanaman;

7. Pemangkasan daun dan ranting pohon (cocoa misalnya) yang tidak perlu;

8. Pengeringan hasil pertanian, seperti jagung, cocoa dsb;

9. Beternak ayam, bebek, kambing, babi;

10. Okulasi tanaman buah-buahan dan karet;

11. Pencangkokan;

12. Pembuatan pakan ternak dan ikan dengan menggunakan bahan lokal yang tersedia;

13. Penyulingan akar wangi, daun nilam dan kayu manis, dll.

 

Pada tahun 2011 Sorikmas mengeluarkan dana untuk program ini sejumlah Rp 1.3 milyar, dan sampai dengan bulan April 2012  saja Sorikmas sudah mengeluarkan Rp 2.289.000.000.  Jumlah ini tidak termasuk biaya untuk gaji dan operasi tim pelaksana.  Jumlah ini akan semakin meningkat, khususnya kalau Sorikmas sudah memasuki tahap operasi & produksi.

 

             

PROGRAM PERTANIAN BERBASIS KEHUTANAN

Kajian dan telaah yang  telah dilakukan sejak tahap dini dari kegiatan PT Sorikmas Mining di Kab. Madina telah menunjukkan adanya alasan untuk munculnya keengganan dan kekhawatiran dari masyarakat lokal dalam kaitannya dengan operasi pertambangan masa depan PT Sorikmas Mining di Kabupaten Madina.

Kebanyakan dari kekhawatiran ini terpusat pada masa depan kegiatan pertanian dan kehutanan oleh masyarakat petani pada lereng dan dataran tinggi (puncak) pegunungan Sihayo dan Sambung. Khususnya tentang kelongsoran tanah dan terpolusinya sungai yang mengalir dari pegunungan yang berfungsi sebagai sumber air minum dan sumber irigasi pertanian yang selalu mereka kemukakan.  Lebih jauh, kontribusi Perusahaan terhadap kesejahteraan umum dan kemajuan masyarakat petani lokal telah dipertanyakan dan diragukan oleh mereka.

Kajian lebih lanjut telah difokuskan pada kekhawatiran ini dengan maksud untuk menjawab isu-isu lingkungan dan lebih khusus lagi untuk meningkatkan posisi dan pendapatan masyarakat petani di masa mendatang.  Kajian-kajian ini telah dilakukan oleh pakar berpengalaman internasional yang memiliki hubungan dengan masyarakat donor dari beberapa negara asing.

Penghapusan atau penurunan kekhawatiran tentang lingkungan seperti stabilitas tanah, erosi dan perlindungan tempat tangkapan air, yang diakibatkan oleh degradasi (penurunan derajat) dan deforestrasi (perusakan hutan) yang disebabkan oleh meluasnya kegiatan pertanian seperti penggantian pohon hutan asli dengan tanaman perkebunan, seperti halnya juga oleh kegiatan pertambangan di masa mendatang pada areal terbatas pada dataran tinggi pegunungan Sihayo dan Sambung adalah merupakan maskud  dari kegiatan Program CSR PT Sorikmas Mining.  Program yang kami rencanakan didasari oleh pembelajaran dari konsep internasional  yang disebut REDD+ yang juga didukung oleh rencana kehutanan pemerintah Indonesia.  REED adalah suatu konsep untuk mengurangi emisi dari penurunan luasan hutan dan penebangan hutan.

Pelaksanaan program penghutanan kembali yang diperluas dan terkendali dengan fokus pada penanaman kembali  dengan pohon-pohon  yang beraneka ragam dipandang bermanfaat terutama bagi masyarakat pertanian dan budidaya-silvo telah kami rancang untuk melibatkan sebanyak mungkin relawan dan warga masyarakat desa serta para perambah hutan.

Bibit-bibit bermutu unggul hampir mustahil didapatkan dalam jangkauan para petani, atau paling tidak ditawarkan dengan harga mahal serta tanpa jaminan atas mutunya.

Beberapa tanaman moderen yang dikelola oleh koperasi-koperasi petani setempat akan dibangun di lokasi-lokasi yang cocok.  Pembibitan ini  akan dipenuhi oleh tanaman induk yang bermutu tinggi dan akan menghasilkan entresses (mata daun pada pohon induk) untuk digunakan dalam inokulasi dari pohon-pohon  yang secara genetis bernilai tinggi dengan pohon anakan lokal.

Target dari petak pembibitan ini adalah untuk menghasilkan pohon-pohon bibit berproduksi tinggi  dari jenis tanaman karet, pohon-pohon buah durian, rambutan, mangga, langsat dan jambu.  Di masa depan beberapa varietas tambahan akan ditambahkan, sesuai dengan kecocokan dan permintaan pasar.

Hama Keong Mas Yang Menguntungkan

Keong mas merupakan salah satu hama yang sangat merugikan bagi petani terutama pada tanaman padi. Tingkat penyerangan hama keong mas pada tanaman padi saat ini cukup tinggi terutama pada lahan sawah yang ada saluran irigasinya. Biasayanya serangan keong mas ini dapat kita lihat pada saat di persemaian sampai tanaman berumur dibawah 4 minggu setelah tanam.
Pada tanaman dewasa, gangguan keong mas hanya terjadi ada anakannya saja sehingga jumlah anakan yang produktif menjadi berkurang. Hal ini akan menyebabkan tingkat produksi panen akan berkurang.
Perkembangbiakan keong mas ini tergolong cepat, mulai dari bertelur hingga menetas hanya membutuhkan waktu 4 – 7 hari (Pitojo, 1996). Satu ekor keong mas betina juga mampu menghasilkan 15 kali bertelur selama satu siklus hidupnya (60-80 hari), dan biasanya dalam sekali bertelur mampu menghasilkan telur sebanyak 300-500 butir. Continue reading

Komunitas

Sorikmas akan berkarya di Sumatera utara untuk tahun-tahun yang akan datang. Kami melihat hubungan yang positif dan produktif dengan masyarakat lokal sebagai bagian yang sangat penting dari kesuksesan bisnis kami.

Dengan demikian kami mencurahkan sebagian besar energi dan sumber daya untuk membantu masyarakat lokal dengan cara yang dapat kami lakukan dan tetap menginformasikan setiap orang tentang kegiatan dan rencana kami. Continue reading